Tugas

Bertahun _ tahun yang lalu memendamu dalam diam

Setelah beberapa lama aku mulai menyebutmu dalam benakku

Lalu kemudian aku mulai berani menginginkanmu

Semenjak itu aku punya energi mewujudkanmu

Aku menuliskanmu di bangun dan jatuhku

Aku dengung_ dengungkan keseluruh jemari ku

Meskipun masih saja aku malu _ malu

Perihalmu aku selalu berkompromi baik_baik dengan lakuku

Kini saat semuanya makin terang

Saat semua sudah semakin jelas

Saat sudah menjadi kenyataan

Baru aku tau rasanya rindu itu

Baru aku tau rasanya penantian itu

Saat gelora masih masih menyala dengan tugas meski kantuk tak dapat dikutuk.

Sekarang biarlah tugas_tugas ini kuselesiakan dengan caraku.

Sesekali berpuisi sesekali kembali dengan nyali.

Ya..

Nikmati saja tumpukan tugas ini.

Hmm.. Nyumii.

Advertisements

Kosong

Malam ini sepi

Dentum jam terdengar tinggi

Memutar imajinasi tak bertepi

Berhenti !

Jangan kata aku sendiri

Lalu merintih untuk ditemani

Kemana _ mana suka lonely

Tak bergantung sana sini

Jika kau disini, kau akan tau betapa aku sangat menikmati

Tiap jatuhan daun yang bernyanyi

Kukira mereka sakti sekali

Jatuhpun tak gentar tetap berbagi

Menjadi pupuk bagi bumi

So sweet sekali

Begitu..

Aku juga begitu..

Aku ini bilangan asli

Jelas terdefenisi

Kosong tanpa basa _ basi

Didalam mimipi aku berenergi

Didunia nyata aku bermimpi

Kenyataannya kita lihat saja nanti

Nikmati saja dulu tahap ini.

PingErs

Sederhana tapi selamanya. Soal rasa gak bisa bohong. Indomie seleraku. Gak papa banyak micin kenak kangker. Kan masih bisa oprasi. Yang penting indomie seleraku. Mati udah takdir. Takdir memang kejam (sing) .

(ceritasibodoh)

Ya robbii sabbit qolbi alaa diinikk.

Lindungi, kuatkan begini amat dunia.

Wkwkw

Kalian semua suci, aku pendosa

Tarbiyah ini, apakah sudah cukup?

Memintal benang_benang ukhuah

Diantara degup_degup kisah

Sekelumit bukan hanya berbagi resah

Saat mutabaah yaumiyah penuh dengan ibadah_ibadah

Berlelah lelah menghadiri agenda_agenda dakwah

Berkata lillah…

Tarbiah ini apakah cukup sudah?

Menjadi hakim yang mengetuk palu,ini benar dan salah

Tarbiah ini, apakah cukup sudah?

Jika lisan_lisan mulai tak berarah

Menusuk diulu hati tanpa nurani

Seolah paling suci sendiri

Tarbiah ini, apakah cukup sudah?

Sejenak

Sejenak kita tanya dalam benak

Pelan _ pelan tanpa riak

Tak usahlah berteriak _ teriak

Nasi tak akan segera tanak

Lihat itu..

Ada sesuatu yang gersang

Terdiam, disudut halaman belakang

Tak ada yang menemukan

Sedang merintih untuk bertahan

Sejenak tak lama

Sebentar saja

Perhatikan..

Tak usah kelana kemana_ mana

Sejenak saja

Tanpa retorika

Berjalanlah…

Benakmu tau dimana detaknya

Karna kau hidup dari _Nya

Sempurnalah rasa

Pernah saat hujan turun kita tertawa dan menatap indahnya dari koridor panjang itu.

Dijatuhinya dedaunan dan rerantingan.

Pohon rindang daun menari nari kegirangan.

Bergerak gerak menghentak_ hentak seperti sedang tertawa terbahak_ bahak

Perbincangan kita waktu itu sederhana sekali

Ya..

Tentang apa yang kita lihat

Khusyu dengan apa yg kita dengar

Seakan kita ikut menyaksikan simpul kebahagian pepohonan yang diguyur hujan.

Sejuk dirasa.

Hari ini.. Kita kembali kedatangan ia.

Hujan rintik_ rintik.

Tak segalak kemarin.

Ia turun dengan derasnya.

Siang tadi cuma rintik _ rintik

Bukan berarak tapi pelan _pelan mengatur detak

Kita mengangkat kotak itu..

Mebereskan ini dan itu.

Duh.. Rasanya banyak sekali kenangan tiap langkah yang kita pijak.

Mereka berteriak _teriak membawa segudang sendu yang riak

Sempurnalah rasa.

Dipenuhinya bahagia sedih kecewa derita dan rindu tak terikira setelahnya.

Akankah kita bertemu kembali

Yang kita ingat di akhir _ akhir

Selalu ingin kembali ke awal

Penghujung malam ramadhan terakhir

Malah saf _saf semakin kecil

Duh ramadhan…

Akankah tahun depan kita bertemu kembali.

Dengan riuhnya tangan2 menengadah di malam dan siang hari.

Dengan lelahnya mata tilawah berjuz juz tiap hari

Dengan bahagianya sahur dan berbuka dengan keluarga

Dengan sejuknya bercengkerama didapur menyiapkan menu berbuka bersmaa ibunda tercinta.

Dengan manisnya menjaga lisan dan dahaga

Duh ramadhan..

Akan kah kita bertemu kembali.

Syurga menanti Ruh mu

Tubuh – tubuh yang rebah seakan tak ingin menyerah
Bersusah susah menghalau segala resah
Ingin marah membuncah diantara deburan waktu mata – mata yang merasa tak bersalah

Tatapmu berbinar darah
Lengkung senyummu mengiba menghamba
Kaki- kakimu menghunus perihnya peluru
Berburu detak kalbu menghujani ingin sang Penentu
Menengadah disela rajutan pinta dan pilu menanah membiru
Didasar kau harum dengan kalimah syurga menanti ruh mu.

Palestina..
Langitmu menghujani tangis
Semanis duka berujung syurga
Pekikanmu hingga lubang- lubang tanah berlembah
Kasatria dengan doa dan hafalannya
Rindang menaungi sakit dan derita

Wahai para suaka bertameng tahta perebut tanah Palestina
Dunia mu tuli dan buta
Akhiratmu sungguh neraka.
Api- Api sedang menunggumu dalam bara.
Sunnguh kau akan binasa dengan seperih jiwa.

Patah

Esok mungkin sudah rebah
Diantara nyanyian yang sumringah
Lengkungnya dirasa pasrah
Pada jeda tiap rintiknya yang basah
Lalu kembali dengan luah – luahan resah

Ia jatuh dibawah angin merengkuh dingin
Suaranya indah merekah
Dilubanginya tanah- tanah
Dentuman jantung langitnya menengadah
Tertatih mengiba Sang pencerah

Patahnya pisah
Membelakangi kisah tak berkesudah
Patahnya bernanah
Menukil darah darah yang luah
Patahnya Sumpah
Menjadi syair – syair menggugah

Minggir..
Kami sudah di batas pelipir
Usir tak berpikir
Kami nuklir di saat nyawamu menyetir.
Minggir..!
Kami bukan sang selir !

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑