Patah

Esok mungkin sudah rebah
Diantara nyanyian yang sumringah
Lengkungnya dirasa pasrah
Pada jeda tiap rintiknya yang basah
Lalu kembali dengan luah – luahan resah

Ia jatuh dibawah angin merengkuh dingin
Suaranya indah merekah
Dilubanginya tanah- tanah
Dentuman jantung langitnya menengadah
Tertatih mengiba Sang pencerah

Patahnya pisah
Membelakangi kisah tak berkesudah
Patahnya bernanah
Menukil darah darah yang luah
Patahnya Sumpah
Menjadi syair – syair menggugah

Minggir..
Kami sudah di batas pelipir
Usir tak berpikir
Kami nuklir di saat nyawamu menyetir.
Minggir..!
Kami bukan sang selir !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s